Jumat, 21 Agustus 2015

Pertumbuhan Dan Perkembangan Kerajaan Islam


MAKALAH
Pertumbuhan Dan Perkembangan Kerajaan Islam














 

















Kelompok 13
Kelas”A”
Hukum Bisnis Syariah(HBS)

Sayyidi
Syamsul arifin. B
Arif roni
Badruttamam


UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA (UTM) 2012-2013
PENDAHULUAN


Islam bukanhanyasekedar agama ataukeyakinan, tetapimerupakanasasdarisebuahperadaban.Sejarahtelahmembuktikanbahwadalamkurunwaktu 23, Nabi Muhammad SAW mampumembangunperadaban Islam di jazirah Arabia yang berdasarkanpadaprinsip-prinsippersamaandankeadilan.Dalamwaktu yang singkat, pengaruhperadaban Islam tersebutsegeramenyebarkeberbagaibelahandunia, termasukkewilayah Nusantara.
Ada berbagai macam teori yang menyatakan tentang masuknya Islam ke Nusantara. Beberapa teori tersebut ada yang menyatakan bahwa Islam masuk ke Nusantara sekitar abad ke-7, abad ke-11, dan sebagainya. Dari teori tersebut, proses sentuhan awal masyarakat Nusantara dengan Islam terjadi pada abad ke-7 melalui proses perdagangan , kemudian pada abad selanjutnya Islam mulai tumbuh dan berkembang. Selanjutnyamelahirkankerajaan-kerajaan yang bercorak Islam.Sepertikerajaan-kerajaan Islam di Sumatera, antara lain SamuderaPasai, Aceh, Minangkabau. Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, antaralain, Demak,Pajang,Mataram,Cirebon,Banten.                                                                                                                                                                                                                                                                                    
Semuakerajaantersebutmemilikiandildalammengembangkankhazanahperadaban Islam di Nusantara, khususnyaperadaban Islam di wilayahkekuasaankerajaantersebut.
Dalammakalahini, penulisakanmembahasmengenaitumbuhdanberkembangnyakerajaan-kerajaan Islam di Sumatera danJawa. Beberapakerajaan Islam di Sumatera danJawasudahpenulissebutkan di atas.




 

Pertumbuhan Dan Perkembangan Kerajaan Islam

A. Kerajaan-Kerajaan Islam Di Sumatera

1. Samudera Pasai
Kerajaan Samudera Pasai terletak di Aceh dan merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Kerajaan ini terletak di pesisir Timur Laut Aceh. Kapan berdirinya Kesultanan Samudera Pasai belum bisa dipastikan dengan tepat dan masih menjadi perdebatan para ahli sejarah. Namun, menurut Uka Tjandrasasmita (Ed) dalam buku Badri Yatim, menyatakan bahwa  kemunculannya sebagai kerajaan Islam  diperkirakan mulai awal atau pertengahan abad ke-13 M, sebagai hasil dari proses Islamisasi daerah-daerah pantai yang pernah disinggahi pedagang-pedagang Muslim sejak abad ke-7 dan seterusnya.
 Malik Al-Saleh, raja pertama kerajaan Samudera Pasai, merupakan pendiri kerajaan tersebut. Dalam Hikayat Raja-raja Pasai disebutkan nama Malik Al-Saleh sebelum menjadi raja adalah Merah Sile atau Merah Selu. Ia masuk Islam setelah mendapatkan seruan dakwah dari Syaikh Ismail beserta rombongan yang datang dari Mekkah.
Pendapat bahwa Islam sudah berkembang di sana sejak awal abad ke-13 M, didukung oleh berita China dan pendapat Ibn Batutah yang mengunjungi Samudera Pasai pada pertengahan abad ke 14 M (tahun 746 H/1345 M).
            Samudera Pasai ketika itu merupakan pusat studi agama Islam dan tempat berkumpul ulama-ulama dari berbagai negeri Islam untuk berdiskusi berbagai masalah keagamaan dan keduniaan. Kehidupan masyarakat Samudera Pasai diwarnai oleh agama dan kebudayaan Islam. Pemerintahnya bersifat Theokrasi (berdasarkan ajaran Islam) rakyatnya sebagian besar memeluk agama Islam.
2. Kerajaan Aceh
            Kurang diketahui kapan kerajaan ini sebenarnya berdiri. Anas Machmud berpendapat, sebagaimana yang dikutip dalam buku Badri Yatim, bahwa kerajaan Aceh berdiri pada abad ke-15 M, di atas puing-puing kerajaan Lamuri, oleh Muzaffar Syah (1465-1497 M). Dialah yang membangun kota Aceh Darussalam.
            Pada awalnya, wilayah kerajaan Aceh ini hanya mencakup Banda Aceh dan Aceh Besar yang dipimpin oleh ayah Ali Mughayat Syah. Ketika Mughayat Syah naik tahta menggantikan ayahnya, ia berhasil memperkuat kekuatan dan mempersatukan wilayah Acehdalam kekuasaannya, termasuk menaklukkan kerajaan Pasai.
   Peletak dasar kebesaran Kerajaan Aceh adalah Sultan Alauddin Riayat Syah. Pada masa pemerintahannya, wilayah kekuasaan Aceh Darussalam semakin meluas sampai diBengkulu di pantai Barat, seluruh Pantai Timur Sumatera, dan Tanah Batak di pedalaman. Kegiatan perdagangan berkembang dengan pesat, terutama dengan Gujarat, Arab, dan Turki.
   Di masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, Aceh Darussalam menjadi salah satu pusat pengembangan Islam di Indonesia. Di Aceh dibangun masjid Baiturrahman, rumah-rumah ibadah, dan lembaga-lembaga pengkajian Islam. Di Aceh tinggal ulama-ulama tasawuf yang terkenal, seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin, Syaikh Nuruddin Ar-Raniri, dan Abdul Rauf As-Sinkili.
3. Kerajaan Minangkabau
Kerajaan Pagaruyung disebut juga sebagai Kerajaan Minangkabau yang merupakan salah satu Kerajaan Melayu yang pernah berdiri, meliputi provinsi Sumatra Barat sekarang dan daerah-daerah di sekitarnya.Kerajaan ini pernah dipimpin oleh Adityawarman sejak tahun 1347. Dan sekitar tahun 1600-an, kerajaan ini menjadi Kesultanan Islam.
Dengan masuknya agama Islam, maka aturan adat yang bertentangan dengan ajaran agama Islam mulai dihilangkan dan hal-hal yang pokok dalam adat diganti dengan aturan agama Islam. Pepatah adat Minangkabau yang terkenal: "Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah", yang artinya adat Minangkabau bersendikan pada agama Islam, sedangkan agama Islam bersendikan pada Al-Quran.
Pengaruh agama Islam membawa perubahan secara fundamental terhadap adat Minangkabau. Tetapi sejak kapan pengaruh Islam memasuki tubuh adat Minangkabau secara pasti, masih sukar dibuktikan.
Islam juga membawa pengaruh pada sistem pemerintahan kerajaaan Pagaruyung dengan ditambahnya unsur pemerintahan seperti Tuan Kadi dan beberapa istilah lain yang berhubungan dengan Islam.Penamaan nagari Sumpur Kudus yang mengandung kata kudus yang berasal dari kata Quduus (suci) sebagai tempat kedudukan Rajo Ibadat dan Limo Kaum yang mengandung kata qaum jelas merupakan pengaruh dari bahasa Arab atau Islam.

B. Kerajaan-Kerajaan Islam Di Jawa

1. Kerajaan Demak
Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Demak sebelumnya merupakan daerah bawahan dari Majapahit. Daerah ini diberikan kepada Raden Patah, keturunan Raja Majapahit yang terakhir.
Ketika kekuasaan kerajaan Majapahit melemah, Raden Patah memisahkan diri sebagai bawahan Majapahit pada tahun 1478 M. Dengan dukungan dari para adipati, Raden Patah mendirikan kerajaan Islam Demak dengan gelar Senopati Jimbung Ngabdurrahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama. Sejak saat itu, kerajaan Demak berkembang menjadi kerajaan maritim yang kuat.
Keberhasilan Raden Patah dalam perluasan dan pertahanan kerajaan dapat dilihat ketika ia melanklukkan Girindra Wardhana yang merebut tahkta Majapahit (1478), hingga dapat menggambil alih kekuasaan Majapahit. Selain itu, Patah juga mengadakan perlawanan terhada portugis, yang telah menduduki Malaka dan ingin mengganggu Demak.
Dalam bidang dakwah Islam dan pengembangannya, Raden Patah mencoba menerapkan hukum Islam dalam berbagai aspek kehidupan. Selain itu, ia juga membangun istana dan mendirikan masjid (1479) yang sampai sekarang terkenal dengan masjid Agung Demak. Pendirian masjid itu dibantu sepenuhnya oleh walisongo.


2. Kerajaan Pajang
            Kesultanan ini merupakan kerajaan Islam pertama yang terletak di daerah pedalaman. Sebelumnya, kerajaan Islam selalu berada di daerah pesisir, karena Islam datang melalui para pedagang dari Asia Barat yang berlabuh di pesisir.
Setelah Sultan Trenggana meninggal pada tahun 1546, anaknya yang bernama Sunan Prawoto diangkat sebagai penggantinya. Akan tetapi, ia kemudian meninggal terbunuh dalam perebutan kekuasaan oleh keponakannya sendiri, yaitu Arya Panangsang.
Selanjutnya, AryaPenangsangmenjadipenguasaDemak.NamunkarenaKadipatenPajangjugatelahberanjakkuatdanmemilikiwilayah yang luasterjadilahpertentanganantaraJakaTingkirdanAryaPenangsang.Denganbantuandarikadipaten-kadipatenlainnya yang jugatidakmenyukaiAryaPenangsang.
Kesultanan Pajang adalah kesultanan Islam yang menggantungkan hidupnya pada budaya agraris, karena secara geografis pajang jauh terletak di pedalaman Jawa. Pengaruh agama Islam yang kuat di pesisir menjalar dan tersebar ke daerah pedalaman. Pada masa pemerintahan Sultan Adiwijaya, Pajang berusaha mengembangkan kesusasteraan dan kesenian Islam.

3. KerajaanMataram
Pada waktu Sultan Adiwijaya berkuasa di Pajang, Ki Ageng Pemanahan dilantik menjadi adipati di Mataram sebagai imbalan atas keberhasilannya membantu menumpas Aria Penangsang. Sutawijaya, putra Ki Ageng Pemanahan diambil anak angkat oleh Sultan Adiwijaya. Setelah Ki Ageng Pemanahan wafat pada tahun 1575 M, Sutawijaya diangkat menjadi Adipati di Mataram. Setelah menjadi Adipati, Sutawijaya ternyata tidak puas dan ingin menjadi raja yang menguasai seluruh Jawa, sehingga terjadilah peperangan sengit pada tahun 1528 M yang menyebabkan Sultan Adiwijaya mangkat. Setelah itu terjadi perebutan kekuasaan di antara para Bangsawan Pajang dengan pasukan Pangeran Pangiri yang membuat Pangeran Pangiri beserta pengikutnya diusir dari Pajang, Mataram. Setelah suasana aman, Pangeran Benawa (putra Adiwijaya) menyerahkan takhtanya kepada Sutawijaya yang kemudian memindahkan pusat pemerintahannya ke Kota Gede pada tahun 1568 M. Sejak saat itu berdirilah Kerajaan Mataram.
Kehidupan masyarakat di kerajaan Mataram, tertata dengan baik berdasarkan hukum Islam tanpa meninggalkan norma-norma lama begitu saja. Dalam pemerintahan Kerajaan Mataram Islam, Raja merupakan pemegang kekuasaan tertinggi, kemudian diikuti oleh sejumlah pejabat kerajaan. Di bidang pengadilan, dalam istana terdapat jabatan jaksa yang bertugas menjalankan pengadilan istana
Kerajaan Mataram menggantungkan kehidupan ekonominya dari sektor agraris. Hal ini karena letaknya yang berada di pedalaman. Akan tetapi, Mataram juga memiliki daerah kekuasan di daerah pesisir utara Jawa yang mayoritas sebagai pelaut. Daerah pesisirinilah yang berperanpentingbagiarusperdaganganKerajaanMataram.
Kebudayaan yang berkembangpesatpadamasaKerajaanMataramberupasenitari, pahat, suara, dansastra.Bentukkebudayaan yang berkembangadalahUpacaraKejawen yang merupakanakulturasiantarakebudayaan Hindu-Budhadengan Islam.


C. Pola Pembentukan Budaya Islam Di Sumatera
Islam yang semula datang di Nusantara pada abad pertama Hijriyah dahulu, mau tidak mau menghadapi kenyataan adanya beraneka warna perdaban itu. Baik yang membawa itu kaum pedagang, kaum da’i ataupun ulama. Tetapai bagaimanapun juga, mungkin kurang sempurnanya keislamannya kaum pedagang, kaum da’i ataupun ulama tersebut, mereka semuanya menyiarkan suatu rangkaian ajaran dan cara hidup, yang secara kwalitatif lebih maju daripada perdaban yang ada. Tidak hanya bidang teologi monotheismenya dibanding dengan teologi polytheisme tetapi juga di bidang kehidupan kemasyarakatan yang tidak mengenal pembagian kasta.Bila dibandingkan dengan peradaban Hindu-Budha, di mana masih dominan paham ‘‘animisme“ dan ‘‘dinamisme‘‘ primitif, maka ajaran-ajaran Islam jelas secara kualitatif jauh lebih maju lagi.
Adapun pola pembentukan budaya Islam di Sumatera menggunakan pola Samudera Pasai. Sejak awal perkembangannya, Samudera Pasai menunjukkan banyak pertanda dari pembentukan suatu negara baru. Kerajaan ini tidak saja berhadapan dengan golongan-golongan yang belum ditundukkan dan diislamkan dari wilayah pedalaman, tetapi juga harus  menyelesaikan pertentangan politik serta pertentangan keluarga yang berkepanjangan. Dalam proses perkembangannya menjadi negara terpusat, Samudera Pasai juga menjadi pusat pengajaran agama. Reputasinya sebagai pusat agama terus berlanjut walaupun kemudian kedudukan ekonomi dan politiknya menyusut.
Dengan pola tersebut, Samudera Pasai memiliki “kebebasan budaya“ untuk memformulasikan struktur dan sistem kekuasaan, yang mencerminkan gambaran tetantang dirinya. Pola sama dapat pula disaksikan pada proses terbentuknya kerajaan Aceh Darussalamv

C.Politik Islam Hindia Benda

           Pemerintah Hindia Belanda dan umat Islam Indonesia, masing-masing mempunyai kepentingan yang berbeda. Di satu pihak Pemerintah Hindia Belanda dengan segala daya berusaha memperkuat dan mempertahankan kekuasaannya, sementara di pihak lain umat Islam Indonesia berdaya upaya pula untuk melepaskan diri dari cengkeraman kekuasaan tersebut. Sedangkan dalam mempertahankan kekuasaannya, setiap pemerintah kolonial selalu berusaha memahami hal ihwal penduduk pribumi yang dikuasainya, sehingga Kebijaksaan mengenai Pribumi (Inlandsch Politick) sangat besar artinya dalam menjamin kelestarian kekuasaan tersebut.
            Kebijakan pemerintah Hindia Beland dalam menangani masalah Islam ini, seing disebut dengas istilah Islam Politick, di mana Prof. Snouch Horgronje dipandang sebagai peletak dasarnya. Sebelum kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda terhadap Islam hanya berdasarkan rasa takut dan tidak mau ikut campur, karena Belanda belum banyak menguasai Islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar