MAKALAH
Pertumbuhan
Dan Perkembangan Kerajaan Islam
Kelompok
13
Kelas”A”
Hukum
Bisnis Syariah(HBS)
Sayyidi
Syamsul
arifin. B
Arif
roni
Badruttamam
UNIVERSITAS
TRUNOJOYO MADURA (UTM) 2012-2013
Islam bukanhanyasekedar agama
ataukeyakinan,
tetapimerupakanasasdarisebuahperadaban.Sejarahtelahmembuktikanbahwadalamkurunwaktu
23, Nabi Muhammad SAW mampumembangunperadaban Islam di jazirah Arabia yang
berdasarkanpadaprinsip-prinsippersamaandankeadilan.Dalamwaktu yang singkat, pengaruhperadaban
Islam tersebutsegeramenyebarkeberbagaibelahandunia, termasukkewilayah
Nusantara.
Ada berbagai macam teori yang
menyatakan tentang masuknya Islam ke Nusantara. Beberapa teori tersebut ada
yang menyatakan bahwa Islam masuk ke Nusantara sekitar abad ke-7, abad ke-11,
dan sebagainya. Dari teori tersebut, proses sentuhan awal masyarakat Nusantara
dengan Islam terjadi pada abad ke-7 melalui proses perdagangan , kemudian pada
abad selanjutnya Islam mulai tumbuh dan berkembang. Selanjutnyamelahirkankerajaan-kerajaan
yang bercorak Islam.Sepertikerajaan-kerajaan Islam di Sumatera, antara lain
SamuderaPasai, Aceh, Minangkabau. Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, antaralain,
Demak,Pajang,Mataram,Cirebon,Banten.
Semuakerajaantersebutmemilikiandildalammengembangkankhazanahperadaban
Islam di Nusantara, khususnyaperadaban Islam di
wilayahkekuasaankerajaantersebut.
Dalammakalahini,
penulisakanmembahasmengenaitumbuhdanberkembangnyakerajaan-kerajaan Islam di
Sumatera danJawa. Beberapakerajaan Islam di Sumatera
danJawasudahpenulissebutkan di atas.
Pertumbuhan
Dan Perkembangan Kerajaan Islam
A.
Kerajaan-Kerajaan Islam Di Sumatera
1.
Samudera Pasai
Kerajaan Samudera Pasai terletak di
Aceh dan merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Kerajaan ini terletak
di pesisir Timur Laut Aceh. Kapan berdirinya Kesultanan Samudera Pasai belum
bisa dipastikan dengan tepat dan masih menjadi perdebatan para ahli sejarah.
Namun, menurut Uka Tjandrasasmita (Ed) dalam buku Badri Yatim, menyatakan
bahwa kemunculannya sebagai kerajaan
Islam diperkirakan mulai awal atau
pertengahan abad ke-13 M, sebagai hasil dari proses Islamisasi daerah-daerah
pantai yang pernah disinggahi pedagang-pedagang Muslim sejak abad ke-7 dan
seterusnya.
Malik Al-Saleh, raja pertama kerajaan Samudera
Pasai, merupakan pendiri kerajaan tersebut. Dalam Hikayat Raja-raja Pasai
disebutkan nama Malik Al-Saleh sebelum menjadi raja adalah Merah Sile atau
Merah Selu. Ia masuk Islam setelah mendapatkan seruan dakwah dari Syaikh Ismail
beserta rombongan yang datang dari Mekkah.
Pendapat
bahwa Islam sudah berkembang di sana sejak awal abad ke-13 M, didukung oleh
berita China dan pendapat Ibn Batutah yang mengunjungi Samudera Pasai pada
pertengahan abad ke 14 M (tahun 746 H/1345 M).
Samudera Pasai ketika itu merupakan
pusat studi agama Islam dan tempat berkumpul ulama-ulama dari berbagai negeri
Islam untuk berdiskusi berbagai masalah keagamaan dan keduniaan. Kehidupan
masyarakat Samudera Pasai diwarnai oleh agama dan kebudayaan Islam.
Pemerintahnya bersifat Theokrasi
(berdasarkan ajaran Islam) rakyatnya sebagian besar
memeluk agama Islam.
2. Kerajaan Aceh
Kurang
diketahui kapan kerajaan ini sebenarnya berdiri. Anas Machmud berpendapat,
sebagaimana yang dikutip dalam buku Badri Yatim, bahwa kerajaan Aceh berdiri
pada abad ke-15 M, di atas puing-puing kerajaan Lamuri, oleh Muzaffar Syah
(1465-1497 M). Dialah yang membangun kota Aceh Darussalam.
Pada
awalnya, wilayah kerajaan Aceh ini hanya mencakup Banda Aceh dan Aceh Besar
yang dipimpin oleh ayah Ali Mughayat Syah. Ketika Mughayat Syah naik tahta
menggantikan ayahnya, ia berhasil memperkuat kekuatan dan mempersatukan wilayah
Acehdalam kekuasaannya, termasuk menaklukkan kerajaan Pasai.
Peletak
dasar kebesaran Kerajaan Aceh adalah Sultan Alauddin Riayat Syah. Pada masa
pemerintahannya, wilayah kekuasaan Aceh Darussalam semakin meluas sampai
diBengkulu di pantai Barat, seluruh Pantai Timur Sumatera, dan Tanah Batak di
pedalaman. Kegiatan perdagangan berkembang dengan pesat, terutama
dengan Gujarat, Arab, dan Turki.
Di
masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, Aceh Darussalam menjadi salah satu
pusat pengembangan Islam di Indonesia. Di Aceh dibangun masjid Baiturrahman,
rumah-rumah ibadah, dan lembaga-lembaga pengkajian Islam. Di Aceh tinggal
ulama-ulama tasawuf yang terkenal, seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin, Syaikh
Nuruddin Ar-Raniri, dan Abdul Rauf As-Sinkili.
3.
Kerajaan Minangkabau
Kerajaan Pagaruyung disebut juga
sebagai Kerajaan Minangkabau yang merupakan salah satu Kerajaan Melayu yang
pernah berdiri, meliputi provinsi Sumatra Barat sekarang dan daerah-daerah di
sekitarnya.Kerajaan ini pernah dipimpin oleh Adityawarman sejak tahun 1347. Dan
sekitar tahun 1600-an, kerajaan ini menjadi Kesultanan Islam.
Dengan masuknya agama Islam, maka
aturan adat yang bertentangan dengan ajaran agama Islam mulai dihilangkan dan
hal-hal yang pokok dalam adat diganti dengan aturan agama Islam. Pepatah adat
Minangkabau yang terkenal: "Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah",
yang artinya adat Minangkabau bersendikan pada agama Islam, sedangkan agama
Islam bersendikan pada Al-Quran.
Pengaruh agama Islam membawa
perubahan secara fundamental terhadap adat Minangkabau. Tetapi sejak kapan
pengaruh Islam memasuki tubuh adat Minangkabau secara pasti, masih sukar
dibuktikan.
Islam juga membawa pengaruh pada
sistem pemerintahan kerajaaan Pagaruyung dengan ditambahnya unsur pemerintahan
seperti Tuan Kadi dan beberapa istilah lain yang berhubungan dengan
Islam.Penamaan nagari Sumpur Kudus yang mengandung kata kudus yang berasal dari
kata Quduus (suci) sebagai tempat kedudukan Rajo Ibadat dan Limo Kaum yang
mengandung kata qaum jelas merupakan
pengaruh dari bahasa Arab atau Islam.
B.
Kerajaan-Kerajaan Islam Di Jawa
1.
Kerajaan Demak
Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Demak
sebelumnya merupakan daerah bawahan dari Majapahit. Daerah ini diberikan kepada
Raden Patah, keturunan Raja Majapahit yang terakhir.
Ketika kekuasaan kerajaan Majapahit
melemah, Raden Patah memisahkan diri sebagai bawahan Majapahit pada tahun 1478
M. Dengan dukungan dari para adipati, Raden Patah mendirikan kerajaan Islam Demak dengan gelar Senopati
Jimbung Ngabdurrahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama. Sejak saat
itu, kerajaan Demak berkembang menjadi kerajaan maritim yang kuat.
Keberhasilan Raden Patah dalam
perluasan dan pertahanan kerajaan dapat dilihat ketika ia melanklukkan Girindra
Wardhana yang merebut tahkta Majapahit (1478), hingga dapat menggambil alih
kekuasaan Majapahit. Selain itu, Patah juga mengadakan perlawanan terhada
portugis, yang telah menduduki Malaka dan ingin mengganggu Demak.
Dalam bidang dakwah Islam dan
pengembangannya, Raden Patah mencoba menerapkan hukum Islam dalam berbagai
aspek kehidupan. Selain itu, ia juga membangun istana dan mendirikan masjid
(1479) yang sampai sekarang terkenal dengan masjid Agung Demak. Pendirian
masjid itu dibantu sepenuhnya oleh walisongo.
2.
Kerajaan Pajang
Kesultanan ini merupakan kerajaan
Islam pertama yang terletak di daerah pedalaman. Sebelumnya, kerajaan Islam
selalu berada di daerah pesisir, karena Islam datang melalui para pedagang dari
Asia Barat yang berlabuh di pesisir.
Setelah Sultan Trenggana meninggal
pada tahun 1546, anaknya yang bernama Sunan Prawoto diangkat sebagai
penggantinya. Akan tetapi, ia kemudian meninggal terbunuh dalam perebutan
kekuasaan oleh keponakannya sendiri, yaitu Arya Panangsang.
Selanjutnya,
AryaPenangsangmenjadipenguasaDemak.NamunkarenaKadipatenPajangjugatelahberanjakkuatdanmemilikiwilayah
yang
luasterjadilahpertentanganantaraJakaTingkirdanAryaPenangsang.Denganbantuandarikadipaten-kadipatenlainnya
yang jugatidakmenyukaiAryaPenangsang.
Kesultanan Pajang adalah kesultanan
Islam yang menggantungkan hidupnya pada budaya agraris, karena secara geografis
pajang jauh terletak di pedalaman Jawa. Pengaruh agama Islam yang kuat di
pesisir menjalar dan tersebar ke daerah pedalaman. Pada masa pemerintahan
Sultan Adiwijaya, Pajang berusaha mengembangkan kesusasteraan dan kesenian
Islam.
3. KerajaanMataram
Pada waktu
Sultan Adiwijaya berkuasa di Pajang, Ki Ageng Pemanahan dilantik menjadi
adipati di Mataram sebagai imbalan atas keberhasilannya membantu menumpas Aria
Penangsang. Sutawijaya, putra Ki Ageng Pemanahan diambil anak angkat oleh
Sultan Adiwijaya. Setelah Ki Ageng Pemanahan wafat pada tahun 1575 M,
Sutawijaya diangkat menjadi Adipati di Mataram. Setelah menjadi Adipati, Sutawijaya
ternyata tidak puas dan ingin menjadi raja yang menguasai seluruh Jawa,
sehingga terjadilah peperangan sengit pada tahun 1528 M yang menyebabkan Sultan
Adiwijaya mangkat. Setelah itu terjadi perebutan kekuasaan di antara para
Bangsawan Pajang dengan pasukan Pangeran Pangiri yang membuat Pangeran Pangiri
beserta pengikutnya diusir dari Pajang, Mataram. Setelah suasana aman, Pangeran
Benawa (putra Adiwijaya) menyerahkan takhtanya kepada Sutawijaya yang
kemudian memindahkan pusat pemerintahannya ke Kota Gede pada tahun 1568 M.
Sejak saat itu berdirilah Kerajaan Mataram.
Kehidupan
masyarakat di kerajaan Mataram, tertata dengan baik berdasarkan hukum Islam
tanpa meninggalkan norma-norma lama begitu saja. Dalam pemerintahan Kerajaan
Mataram Islam, Raja merupakan pemegang kekuasaan tertinggi, kemudian diikuti
oleh sejumlah pejabat kerajaan. Di bidang pengadilan, dalam istana terdapat
jabatan jaksa yang bertugas menjalankan pengadilan istana
Kerajaan
Mataram menggantungkan kehidupan ekonominya dari sektor agraris. Hal ini karena
letaknya yang berada di pedalaman. Akan tetapi, Mataram juga memiliki daerah
kekuasan di daerah pesisir utara Jawa yang mayoritas sebagai pelaut. Daerah
pesisirinilah yang berperanpentingbagiarusperdaganganKerajaanMataram.
Kebudayaan
yang berkembangpesatpadamasaKerajaanMataramberupasenitari, pahat, suara,
dansastra.Bentukkebudayaan yang berkembangadalahUpacaraKejawen yang
merupakanakulturasiantarakebudayaan Hindu-Budhadengan Islam.
C. Pola Pembentukan Budaya Islam Di Sumatera
Islam yang
semula datang di Nusantara pada abad pertama Hijriyah dahulu, mau tidak mau
menghadapi kenyataan adanya beraneka warna perdaban itu. Baik yang membawa itu
kaum pedagang, kaum da’i ataupun ulama. Tetapai bagaimanapun juga, mungkin
kurang sempurnanya keislamannya kaum pedagang, kaum da’i ataupun ulama
tersebut, mereka semuanya menyiarkan suatu rangkaian ajaran dan cara hidup,
yang secara kwalitatif lebih maju daripada perdaban yang ada. Tidak hanya
bidang teologi monotheismenya dibanding
dengan teologi polytheisme tetapi
juga di bidang kehidupan kemasyarakatan yang tidak mengenal pembagian
kasta.Bila dibandingkan dengan peradaban Hindu-Budha, di mana masih dominan
paham ‘‘animisme“ dan ‘‘dinamisme‘‘ primitif, maka ajaran-ajaran Islam jelas
secara kualitatif jauh lebih maju lagi.
Adapun pola
pembentukan budaya Islam di Sumatera menggunakan pola Samudera Pasai. Sejak
awal perkembangannya, Samudera Pasai menunjukkan banyak pertanda dari pembentukan
suatu negara baru. Kerajaan ini tidak saja berhadapan dengan golongan-golongan
yang belum ditundukkan dan diislamkan dari wilayah pedalaman, tetapi juga
harus menyelesaikan pertentangan politik
serta pertentangan keluarga yang berkepanjangan. Dalam proses perkembangannya
menjadi negara terpusat, Samudera Pasai juga menjadi pusat pengajaran agama.
Reputasinya sebagai pusat agama terus berlanjut walaupun kemudian kedudukan
ekonomi dan politiknya menyusut.
Dengan pola
tersebut, Samudera Pasai memiliki “kebebasan budaya“ untuk memformulasikan
struktur dan sistem kekuasaan, yang mencerminkan gambaran tetantang dirinya.
Pola sama dapat pula disaksikan pada proses terbentuknya kerajaan Aceh
Darussalamv
C.Politik Islam Hindia Benda
Pemerintah Hindia Belanda dan umat Islam Indonesia, masing-masing
mempunyai kepentingan yang berbeda. Di satu pihak Pemerintah Hindia Belanda
dengan segala daya berusaha memperkuat dan mempertahankan kekuasaannya,
sementara di pihak lain umat Islam Indonesia berdaya upaya pula untuk
melepaskan diri dari cengkeraman kekuasaan tersebut. Sedangkan dalam
mempertahankan kekuasaannya, setiap pemerintah kolonial selalu berusaha
memahami hal ihwal penduduk pribumi yang dikuasainya, sehingga Kebijaksaan
mengenai Pribumi (Inlandsch Politick) sangat besar artinya dalam
menjamin kelestarian kekuasaan tersebut.
Kebijakan pemerintah
Hindia Beland dalam menangani masalah Islam ini, seing disebut dengas istilah Islam
Politick, di mana Prof. Snouch Horgronje dipandang sebagai peletak
dasarnya. Sebelum kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda terhadap Islam hanya
berdasarkan rasa takut dan tidak mau ikut campur, karena Belanda belum banyak
menguasai Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar