Jumat, 21 Agustus 2015

Filsafat Ilmu Definisi Filsafat Ilmu, Obejek, Dan Problem Dalam Filsafat Ilmu


MAKALAH
Filsafat Ilmu
Definisi Filsafat Ilmu, Obejek, Dan Problem Dalam Filsafat Ilmu














 

















Kelompok 1
Kelas”A”
Hukum Bisnis Syariah(HBS)

Sayyidi
Syamsul Arifin. B
Nur Aida Miryana
Sulaikha

UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA (UTM) 2012-2013
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Berbincang mengenai filsafat baru mulai merebak di abad awal 20, namun France Bacon dengan metode induksi yang ditampilkannya pada abad 19 dapat dikatakan sebagai peletak dasar filsafat ilmu khasanah bidang filsafat secara umum. Sebagian ahli filsafat berpandangan bahwa perhatian yang besar terhadap peran dan fungsi filsafat ilmu mulai mengedepan tatkala ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) mengalami kemajuan yang sangat pesat. Dalam hal ini, ada semacam ke khawatiran yang muncul pada kalangan ilmuan dan filsuf, termasuk juga kalanagan agamawan, bahwa kemajuan iptek dapat mengancam eksistensi umat manusia, bahkan alam dan beserta isinya.
Para filsuf terutama melihat ancaman tersebut muncul lantaran pengembangan iptek berjalan terlepas dari asumsi-asumsi dasar filosofisnya seperti landasan ontology, epistemologis dan aksiologis yang cenderung berjalan sendiri-sendiri. Untuk memahami gerak perkembangan iptek yang sedemikian itulah, maka kehadiran filsafat ilmu sebagai upaya meletakkan kembali peran dan fungsi iptek sesuai dengan tujuan semula, yakni mendasarkan diri dan concern terhadap kebahagian umat manusia, sangat di perlukan, inilah beberapa pokok bahasan utama dalam pengenalan terhadap filsafat ilmu, disamping objek dan pengertian filsafat ilmu yang akan dijelaskan terlebih dahulu.
1.2 Rumusan Masalah
  1. Apakah pengertian filsafat ilmu itu?
  2. Mencakup apa sajakah ruang lingkup filsafat ilmu?
  3. Apa saja objek, kedudukan, dan implikasi filsafat ilmu?
  4. Apa saja problem-problem filsafat ilmu ?

1.3 Tujuan Penulisan
  1. Mengetahui apa itu filsafat ilmu.
  2. Mengetahui ruang lingkup filsafat ilmu.
  3. Mengetahui objek, kedudukan, dan implikasi filsafat ilmu.
  4. Mengetahui problem-problem filsafat ilmu.




PEMBHASAN
  1. PENGERTIAN FILSAFAT
Dalam berbagai pemikiran terdapat banyak pengertian tentang filsafat. Secara etimologis filsafat berasal dari kata “philos” yang artinya love (cinta) dan “sophia” artinya wisdom (kebijaksanaan-kearifan). Jadi filsafat dapat diartikan cinta secara mendalam terhadap kebijaksanaan, cinta akan kearifan.
Menurut Henderson filsafat dapat berarti sebagai pendirian hidup, sebagai pandangan hidup. Misalnya falsafah Pancasila merupakan pandangan atau pendirian hidup bagi bangsa Indonesia.
Webster mendefinisikan filsafat itu sebagai “love of wisdom” dan sebagai “ilmu pengetahuan yang menyelidiki fakta, dan prinsip-prinsip kenyataan hakekat dan kelakuan manusia”.
Definisi Filsafat Menurut Beberapa Ilmuwan Antara Lain:
A. Plato          : Seorang filsuf yunani yang termasyhur murid socrates dan guru aristoteles, mengatakan: filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada (ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli).
B. Aristoteles  : filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang di dalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika (filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda).
C.Marcus Tullius Ciceropolitikus    : filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang maha agung dan usaha-usaha untuk mencapainya.
D. Al-farabi   : Filsuf muslim terbesar sebelum ibnu sina, mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya.
E. Immanuel Kant yang sering disebut raksasa pikir barat, mengatakan : filsafat itu ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup di dalamnya empat persoalan, yaitu: ” apakah yang dapat kita ketahui? (dijawab oleh metafisika) ” apakah yang dapat kita kerjakan? (dijawab oleh etika) ” sampai di manakah pengharapan kita? (dijawab oleh antropologi).
F. Prof. Dr. Fuad Hasan adalah seorang guru besar psikologi UI, menyimpulkan bahwa filsafat adalah suatu ikhtiar untuk berpikir radikal, artinya mulai dari radikalnya suatu gejala, dari akarnya suatu hal yang hendak dimasalahkan.
Berdasarkan pendapat di atas kita memperoleh gambaran bahwa filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafat ilmuan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis, epistemelogis maupun aksiologisnya.

Ontologi ilmu meliputi apa hakikat ilmu itu, apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah, yang tidak terlepas dari persepsi filsafat ilmu tentang apa dan bagaimana.
Epistemologi ilmu meliputi sumber, sarana, dan tatacara mengunakan sarana tersebut untuk mencapai pengetahuan (ilmiah).
Akslologi llmu meliputi nilal‑nilai (values) yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau kenyataan sebagaimana kita jumpai dalam kehidupan kita yang menjelajahi berbagai kawasan, seperti kawasan sosial, kawasan simbolik atau pun fisik material.
  1. Objek Filsafat ilmu
Objek Material filsafat ilmu Yaitu suatu bahan yang menjadi tinjauan penelitian atau pembentukan pengetahuan itu atau hal yang di selidiki, di pandang atau di sorot oleh suatu disiplin ilmu yang mencakup apa saja baik hal-hal yang konkrit ataupun yang abstrak.
Objek Formal filsafat ilmu yaitu sudut pandangan yang ditujukan pada bahan dari penelitian atau pembentukan pengetahuan itu, atau sudut dari mana objek material itu di sorot. Contoh : Objek materialnya adalah manusia dan manusia ini di tinjau dari sudut pandangan yang berbeda-beda sehingga ada beberapa ilmu yang mempelajari manusia di antaranya psikologi, antropologi, sosiologi dan lain sebagainya.
C.    Problem-Problem Filsafat Ilmu
  1. Bagaimana kuantitas dan rumusan dalam teori ilmiah (misal: ciri genetic atau momentum dalam mekanika Newton) berkaitan dengan peristiwa-peristiwa dunia alamiah diluar pikiran kita?
  2. Bagaimana dapat dikatakan bahwa teori atau dalil imliah adalah benar berdasarkan induksi dari sejumlah percobaan yang terbatas ?
  3. Struktu ilmu yaitu metode dan bentuk pengetahuan ilmiah.
  4. Pentingnya ilmu bagi praktek dan pengetahuan tentang realitas.
      D. Mamfaat belajar filsafat ilmu
v Filsafat berguna untuk memuaskan keinginan tahu individu yang sifatnya sederhana (belum complicated). Aspek inilah yang membuat manusia berbeda dari binatang. Pada taraf tertentu, kera misalnya, dapat berpikir, dengan misalnya mempertimbangkan adanya tongkat yang ada didekatnya yang dapat digunakan untuk mencapai pisang yang tergantung dalam sebuah ruangan. Meskipun demikian, kera tetap tidak dapat berpikir lebih jauh dari determinasi alat atau tongkat ini. Kera tidak dapat menghubungkan pikirannya dengan pengalaman pemikiran yang telah terjadi di masa lampau, apalagi memproyeksikan pemikirannya secara visioner ke masa depan. Hanya manusia yang dapat berpikir dalam ruang dan waktu tertentu.
v Filsafat dapat membantu individu untuk menemukan prinsip-prinsip yang benar yang sangat bermanfaat dalam mengarahkan hidup dan perilakunya. Di sini kita berhadapan dengan peran dari cabang filsafat yang namanya filsafat moral atau etika. Dengan bantuan pemikiran filsafat moral (etika), individu semakin mendalami hidupnya, mempertanyakan secara moral seluruh tindakannya dan menetapkan prinsip-prinsip yang baik bagi hidupnya.
v Filsafat sangat membantu individu untuk memperdalam hidupnya. Filsafat hukum misalnya, membantu manusia mengintensifkan makna dari hukum bagi masyarakat pada umumnya dan para praktisi hukum itu sendiri. Misalnya dalam memahami keterbatasan dari hukum positif dan pentingnya rasa keadilan masyarakat yang harus dihormati dan dijunjung tinggi dalam setiap keputusan hukum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar