MAKALAH
Filsafat Ilmu
Definisi Filsafat Ilmu, Obejek,
Dan Problem Dalam Filsafat Ilmu
Kelompok
1
Kelas”A”
Hukum
Bisnis Syariah(HBS)
Sayyidi
Syamsul
Arifin. B
Nur
Aida Miryana
Sulaikha
UNIVERSITAS
TRUNOJOYO MADURA (UTM) 2012-2013
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Berbincang mengenai filsafat baru
mulai merebak di abad awal 20, namun France
Bacon dengan metode induksi yang ditampilkannya pada abad 19 dapat
dikatakan sebagai peletak dasar filsafat ilmu khasanah bidang filsafat secara
umum. Sebagian ahli filsafat berpandangan bahwa perhatian yang besar terhadap
peran dan fungsi filsafat ilmu mulai mengedepan tatkala ilmu pengetahuan dan
teknologi (Iptek) mengalami kemajuan yang sangat pesat. Dalam hal ini, ada
semacam ke khawatiran yang muncul pada kalangan ilmuan dan filsuf, termasuk
juga kalanagan agamawan, bahwa kemajuan iptek dapat mengancam eksistensi umat
manusia, bahkan alam dan beserta isinya.
Para filsuf terutama melihat ancaman
tersebut muncul lantaran pengembangan iptek berjalan terlepas dari
asumsi-asumsi dasar filosofisnya seperti landasan ontology, epistemologis dan
aksiologis yang cenderung berjalan sendiri-sendiri. Untuk memahami gerak
perkembangan iptek yang sedemikian itulah, maka kehadiran filsafat ilmu sebagai
upaya meletakkan kembali peran dan fungsi iptek sesuai dengan tujuan semula,
yakni mendasarkan diri dan concern terhadap kebahagian umat manusia, sangat di
perlukan, inilah beberapa pokok bahasan utama dalam pengenalan terhadap
filsafat ilmu, disamping objek dan pengertian filsafat ilmu yang akan
dijelaskan terlebih dahulu.
1.2 Rumusan Masalah
- Apakah pengertian filsafat ilmu itu?
- Mencakup apa sajakah ruang lingkup filsafat ilmu?
- Apa saja objek, kedudukan, dan implikasi filsafat ilmu?
- Apa saja problem-problem filsafat ilmu ?
1.3 Tujuan Penulisan
- Mengetahui apa itu filsafat ilmu.
- Mengetahui ruang lingkup filsafat ilmu.
- Mengetahui objek, kedudukan, dan implikasi filsafat ilmu.
- Mengetahui problem-problem filsafat ilmu.
PEMBHASAN
- PENGERTIAN FILSAFAT
Dalam
berbagai pemikiran terdapat banyak pengertian tentang filsafat. Secara
etimologis filsafat berasal dari kata “philos” yang artinya love (cinta)
dan “sophia” artinya wisdom (kebijaksanaan-kearifan). Jadi filsafat
dapat diartikan cinta secara mendalam terhadap kebijaksanaan, cinta akan
kearifan.
Menurut Henderson filsafat dapat berarti sebagai
pendirian hidup, sebagai pandangan hidup. Misalnya falsafah Pancasila merupakan
pandangan atau pendirian hidup bagi bangsa Indonesia.
Webster
mendefinisikan filsafat itu sebagai “love of wisdom” dan sebagai “ilmu
pengetahuan yang menyelidiki fakta, dan prinsip-prinsip kenyataan hakekat dan
kelakuan manusia”.
Definisi Filsafat Menurut Beberapa Ilmuwan Antara
Lain:
A. Plato : Seorang filsuf yunani yang
termasyhur murid socrates dan guru aristoteles, mengatakan: filsafat adalah
pengetahuan tentang segala yang ada (ilmu pengetahuan yang berminat mencapai
kebenaran yang asli).
B.
Aristoteles : filsafat
adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang di dalamnya terkandung
ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika
(filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda).
C.Marcus
Tullius Ciceropolitikus :
filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang maha agung dan usaha-usaha
untuk mencapainya.
D. Al-farabi : Filsuf muslim terbesar sebelum ibnu sina,
mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan
bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya.
E. Immanuel Kant yang sering
disebut raksasa pikir barat, mengatakan : filsafat itu ilmu pokok dan pangkal
segala pengetahuan yang mencakup di dalamnya empat persoalan, yaitu: ” apakah
yang dapat kita ketahui? (dijawab oleh metafisika) ” apakah yang dapat kita
kerjakan? (dijawab oleh etika) ” sampai di manakah pengharapan kita? (dijawab
oleh antropologi).
F. Prof. Dr.
Fuad Hasan adalah seorang guru besar psikologi UI, menyimpulkan
bahwa filsafat adalah suatu ikhtiar untuk berpikir radikal, artinya mulai dari
radikalnya suatu gejala, dari akarnya suatu hal yang hendak dimasalahkan.
Berdasarkan
pendapat di atas kita memperoleh gambaran bahwa filsafat ilmu merupakan telaah
kefilsafat ilmuan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang
ditinjau dari segi ontologis, epistemelogis maupun aksiologisnya.
Ontologi
ilmu meliputi apa hakikat ilmu itu, apa hakikat kebenaran
dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah, yang tidak terlepas dari
persepsi filsafat ilmu tentang apa dan bagaimana.
Epistemologi
ilmu meliputi sumber, sarana, dan tatacara mengunakan
sarana tersebut untuk mencapai pengetahuan (ilmiah).
Akslologi
llmu meliputi nilal‑nilai (values) yang bersifat
normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau kenyataan sebagaimana
kita jumpai dalam kehidupan kita yang menjelajahi berbagai kawasan, seperti
kawasan sosial, kawasan simbolik atau pun fisik material.
- Objek Filsafat ilmu
Objek Material filsafat ilmu Yaitu
suatu bahan yang menjadi tinjauan penelitian atau pembentukan pengetahuan itu
atau hal yang di selidiki, di pandang atau di sorot oleh suatu disiplin ilmu
yang mencakup apa saja baik hal-hal yang konkrit ataupun yang abstrak.
Objek Formal filsafat ilmu yaitu
sudut pandangan yang ditujukan pada bahan dari penelitian atau pembentukan
pengetahuan itu, atau sudut dari mana objek material itu di sorot. Contoh :
Objek materialnya adalah manusia dan manusia ini di tinjau dari sudut pandangan
yang berbeda-beda sehingga ada beberapa ilmu yang mempelajari manusia di
antaranya psikologi, antropologi, sosiologi dan lain sebagainya.
C.
Problem-Problem Filsafat Ilmu
- Bagaimana kuantitas dan rumusan dalam teori ilmiah (misal: ciri genetic atau momentum dalam mekanika Newton) berkaitan dengan peristiwa-peristiwa dunia alamiah diluar pikiran kita?
- Bagaimana dapat dikatakan bahwa teori atau dalil imliah adalah benar berdasarkan induksi dari sejumlah percobaan yang terbatas ?
- Struktu ilmu yaitu metode dan bentuk pengetahuan ilmiah.
- Pentingnya ilmu bagi praktek dan pengetahuan tentang realitas.
D. Mamfaat belajar filsafat ilmu
v Filsafat berguna untuk memuaskan keinginan tahu individu yang sifatnya
sederhana (belum complicated). Aspek inilah yang membuat
manusia berbeda dari binatang. Pada taraf tertentu, kera misalnya, dapat
berpikir, dengan misalnya mempertimbangkan adanya tongkat yang ada didekatnya
yang dapat digunakan untuk mencapai pisang yang tergantung dalam sebuah ruangan.
Meskipun demikian, kera tetap tidak dapat berpikir lebih jauh dari determinasi
alat atau tongkat ini. Kera tidak dapat menghubungkan pikirannya dengan
pengalaman pemikiran yang telah terjadi di masa lampau, apalagi memproyeksikan
pemikirannya secara visioner ke masa depan. Hanya manusia yang dapat berpikir
dalam ruang dan waktu tertentu.
v Filsafat dapat membantu individu untuk menemukan prinsip-prinsip yang
benar yang sangat bermanfaat dalam mengarahkan hidup dan perilakunya. Di sini
kita berhadapan dengan peran dari cabang filsafat yang namanya filsafat moral
atau etika. Dengan bantuan pemikiran filsafat moral (etika), individu semakin
mendalami hidupnya, mempertanyakan secara moral seluruh tindakannya dan
menetapkan prinsip-prinsip yang baik bagi hidupnya.
v Filsafat sangat membantu individu untuk memperdalam hidupnya. Filsafat
hukum misalnya, membantu manusia mengintensifkan makna dari hukum bagi
masyarakat pada umumnya dan para praktisi hukum itu sendiri. Misalnya dalam
memahami keterbatasan dari hukum positif dan pentingnya rasa keadilan
masyarakat yang harus dihormati dan dijunjung tinggi dalam setiap keputusan
hukum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar