Kamis, 20 Agustus 2015

AKHLAQ TASAWUF Unsur-Unsur Ruhaniyah Dan Jasmaniyah dan Cara Mensikapinya


MAKALAH
AKHLAQ TASAWUF
Unsur-Unsur Ruhaniyah Dan Jasmaniyah dan Cara Mensikapinya














 

















Kelompok 2
Kelas”A”
Hukum Bisnis Syariah(HBS)

Sayyidi
Syamsul Arifin. A
Syamsul Arifin. B
M. Zainul Fanani
Akh. Bidawi

UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA (UTM) 2012-2013
PENDAHULUAN
            LATAR BELAKANG
            Manusia sebagai makhluk individu memiliki unsur jasmani dan rohani. Unsur fisik yaitu berupa jasmani (raga) dan unsur psikis berupa rohaninya (jiwa). Jika unsur tersebut sudah tidak menyatu lagi maka seseorang tidak dapat disebut sebagai individu lagi. Kedua unsur tersebut harus berjalan dengan seimbang dan harus tercukupi pemenuhannya. Selain itu manusia tidak dapat hidup tanpa kehadiran manusia lain itulah yang menyebabkan adanya dorongan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain. Tidak ada manusia yang sama persis di dunia ini walaupun kembar sekalipun,setiap manusia memiliki keunikan tersendiri. Atas dasar hal tersebut sering sekali terjadi konflik di dalam kehidupan. Rutinitas sehari- hari yang dilakukan secara terus menurus pula kerap kali menimbulkan titik jenuh yang akhirnya menimbulkan stress dan ketegangan psikis.
            Sejak lahir manusia dibekali pemikiran akal pemikiran yang sangat tinggi. Itulah yang menyebabkan manusia memiliki potensi di berbagai bidang.  Pemanfaatan dan menejemen pemikiran secara baik sangat dibutuhkan agar manusia dapat menjalani kehidupannya dengan baik. Sekalipun banyaknya hambatan dan permasalahan dalam kehidupan, kita dapat menyelesaikannya secara tenang dan dapat mengantisipasinya kelak.























RUHANIYAH MANUSIA
Unsur-unsur ruhaniyah manusia yaitu semua bersumber dari Akal, Qolbu Dan Nafsu itu sendiri. Sebagaimana sabda rosul dalam hadistnya yang berarti “ didalam jasad manusia ada segumpal darah yang apabila baik maka baiklah semuanya dan apabila buruk maka buruk pula semuanya. Dan segumpal darah tersebut adalah hati”.
1.        Akal, Qalbu Dan Nafsu
A.    Akal
Kata akal mempunyai 2 makna yaitu:
·           Makna yang pertama adalah mengetahui hakekat sesuatu.Makna yang kedua adalah orang berilmu yang ilmunya itu menjadi seperti sifat baginya. Makna ini sama seperti bis
·           ikan halus rabbaniah yang telah dijelaskan sebelumnya. Jadi tidak mungkin yang dimaksud dengan akal dalam sabda Nabi SAW, “Yang pertama diciptakan Allah SWT adalah akal. Lalu dikatakan kepada akal ,’Menghadaplah’ maka akalpun menghadap” adalah makna akal yang pertama.
Dengan demikian jelas bagimu bahwa yang dimaksud dengan hati, roh, dan an-nafs  alam berbagai ayat dan hadist diatas adalah bisikan halus rabbaniah (ketuhanan).  Sahl at-Tustari’ berkata “Hati itu laksana singgasana dan dada menjadi kursinya.” Ucapan ini menunjukan bahwa yang dimaksud “hati” olehnya adalah bukan gumpalan daging yang berisikan darah hitam melainkan bisikan halus rabbaniah.
Sedangkan menurut ilmuwan dari negara barat sono punya pendapat lain yaitu :
Perilaku manusia merupakan hasil interaksi tiga subsistem dalam kepribadian manusia Id, EgoSuperego. Id adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis manusia (hawa nafsu) pusat insting.
Ada 2 insting dominan :
1.      Libido, insting reproduktif  yang menyediakan energy dasar untuk kegiatan manusia yang konstruktif atau disebut juga insting kehidupan (eros) yang bukan hanya meliputi dorongan seksual, tetapi juga meliputi segala hal yang mendatangkan kenikmatan termasuk kasih ibu, pemujaan pada Tuhan dan cinta diri (narcisism).
2.      Thanatos, insting destruktif dan agresif atau disebut juga insting kematian. Semua motif manusia adalah gabungan antara eros dan thanatos. Idbergerak berdasarkan prinsip kesenangan (pleasure principle), ingin segera memenuhi kebutuhannya. Id bersifat egoistis, tidak bermoral dan tidak mau tahu dengan kenyataan. Id adalah tabiat hewani manusia.

  1. Qalbu
Kata hati memiliki 2 makna :
·           Makna pertama adalah daging kecil yang terletak didalam dada sebelah kiri dan didalamnya ada rongga yang berisi darah hitam. Daging ini menjadi sumber dan tempat bagi roh. Daging seperti ini juga terdapat pada binatang dan orang mati.
·           Makna yang kedua adalah bisikan halus rabbaniyah (ketuhanan) yang berhubungan langsung dengan hati yang berbentuk daging. Bisikan halus rabbaniah inilah yang dapat mengenal Allah SWT dan memahami apa yang tak dapat dijangkau oleh khayalan dan angan-angan.
     Inilah hakekat manusia yang dikenai titah hukum, dan penjelasan seperti ini diisyaratkan oleh firman Allah SWT yang Artinya :“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati”. (QS Qaf ayat 37 )
Jika yang dimaksud denga hati ( al-qalbu ) dalam ayat ini adalah gumpalan daging kecil, maka semua orang memilikinya (namun yang dimaksud disini adalah orang-orang yang mempunyai akal, dengan demikian tidak semua orang memikinya karena tidak semua orang berakal ). Jika kamu telah memahami hal ini, maka ketahuilah bahwa hubungan antara bisikan rabbaniah yang sangat halus dengan hati yang berbentuk daging adalah hubungan yang sangat dalam (samar) yang tidak dapat diketahui dengan penjelasan-penjelasan, jadi tergantung pada persaksian mata hati. Situasi ini dapat diilustrasikan dengan perumpamaan sebagai berikut; bisikan rabbaniah ibarat seorang raja, sedangkan dagingnya laksana istananya. Jika hubungan keduanya seperti halnya hubungan benda-benda, maka tidak benar jika dikatakan bahwa bisikan rabbaniah dapat berpindah dari satu hati ke hati manusia yang lain.
A.    NAFSU
Nafsu secara etimologi berarti jiwa. Adapun nafsu secara terminologis ilmu tasawwuf akhlaq, nafsu adalah dorongan-dorongan alamiah manusia yang mendorong pemenuhan kebutuhan hidupnya.
Adapun penertian hawa nafsu adalah sesuatu yang disenangi oleh jiwa kita yang cenderung negatif baik bersifat jasmani maupun nafsu yang bersifat maknawi. Nafsu yang bersifat jasmani yaitu sesuatu yang berkaitan dengan tubuh kita seperti makanan, minum, dan kebutuhan biologis lainnya, Nafsu yang bersifat maknawi yaitu, nafsu yang berkaitan dengan kebutuhan rohani seperti, nafsu ingin diperhatikan orang lain, ingin dianggap sebagai orang yang paling penting, paling pinter, paling berperan, paling hebat, nafsu ingin disanjung dan lain-lain.Hawa nafsu inilah yang mengakibatkan pengaruh buruk / negatif bagi manusia.
Dari segi tahapan nafsu terbagi menjadi tiga bagian yaitu :
1.        Nafsu amarah
Yaitu jiwa yang masih cenderung kepada kesenangan-kesenangan yang rendah, yaitu kesenangan yang bersifat duniawi. Nafsu ini berada pada tahap pertama yang tergolong sangat rendah, karena yang memiliki nafsu ini masih cenderung kepada perbuatan-perbuatan yang maksiat. Secara alami nafsu amarah cenderung kepada hal-hal yang tidak baik. Bahkan, karena kebiasaan berbuat keburukan tersebut, bila mana dia tidak melakukannya, maka dia akan merasa gelisah, sakau dan gundah gulana.
Allah SWT berfirman dalam al-qur’an 
Artinya: Sesungguhnya nafsu itu suka mengajak ke jalan kejelekan, kecuali (nafsu) seseorang yang mendapatkan rahmat Tuhanku (QS. Yusuf : 53).
2.        Nafsu Lawwamah
Yaitu jiwa yang sudah sadar dan mampu melihat kekurangan-kekurangan diri sendiri, dengan kesadaran itu ia terdorong untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan rendah dan selalu berupaya melakukan sesuatu yang mengantarkan kebahagian yang bernilai tinggi. 
Ustadz Arifin ilham pernah mengatakan , bahwa orang yang masih memiliki nafsu lawammah ini biasanya disaat ia melakukan maksiat/dosa maka akan timbul penyesalan dalam dirinya, namun dalam kesempatan lain ia akan mengulangi maksiat tersebut yang juga akan diiringi dengan penyesalan-penyesalan kembali.
3.        Nafsu Mutmainnah
Yakni jiwa tenang, tentram, karena nafsu ini tergolong tahap tertinggi, nafsu yang sempurna berada dalam kebenaran dan kebajikan, itulah nafsu yang dipanggil dan dirahmati oleh Allah SWT, Sebagaimana firman-Nya:
Artinya : Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. (QS. Al - Fajr : 27-28).
Dalam ayat lain Allah menghiburnya yaitu :
Artinya : Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. (QS. Asy Syams :9)
B.            Karakteristik Manusia
Dalam kehidupan ini manusia dapat diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu:
1.        Manusia yang Berperilaku dengan Akhlak Islamiah
Ia adalah orang yan rajin beribadah dan rajin ke mesjid. Orang seperti ini harus di nomor satukan, karena mereka lebih dekat dengan dakwah kita, sehingga tidak membutuhkan tenaga yang banyak dan untuk mengajak mereka pun tidak banyak kesulitan, Insya Allah.
2.        Manusia yang Berperilaku dengan Akhlak Asasiyah
Ia adalah orang yang tidak taat beragama, tetapi tidak mau terang-terangan dalam berbuat maksiat karena ia masih menghormati harga dirinya. Orang-orang semacam ini menempati urutan kedua.
3.        Manusia yang Berperilaku dengan Akhlak Jahiliah
Ia adalah orang yang bukan dari golongan pertama dan kedua. Dialah orang yang tidak peduli terhadap orang lain, sedang orang lain mencibirnya karena perbuatan dan perangainya yang jelek. Rasullullah saw bersabda, “sesungguhnya sejelek-jelek tempat manusia di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang ditinggalkan (dijauhi) masyarakatnya karena takut dengan kejelekannya”. (HR. Bukhari dan Muslim). Golongan inilah yang disebut dalam sabda Raullullah saw sebagai “”sejelek-jeleknya tempat bergaul”. (HR Muslim).

3 komentar: