MAKALAH
AKHLAQ TASAWUF
Unsur-Unsur
Ruhaniyah Dan Jasmaniyah dan Cara Mensikapinya
Kelompok
2
Kelas”A”
Hukum
Bisnis Syariah(HBS)
Sayyidi
Syamsul
Arifin. A
Syamsul
Arifin. B
M. Zainul Fanani
Akh. Bidawi
UNIVERSITAS
TRUNOJOYO MADURA (UTM) 2012-2013
PENDAHULUAN
LATAR
BELAKANG
Manusia
sebagai makhluk individu memiliki unsur jasmani dan rohani. Unsur fisik yaitu
berupa jasmani (raga) dan unsur psikis berupa rohaninya (jiwa). Jika unsur
tersebut sudah tidak menyatu lagi maka seseorang tidak dapat disebut sebagai
individu lagi. Kedua unsur tersebut harus berjalan dengan seimbang dan harus
tercukupi pemenuhannya. Selain itu manusia tidak dapat hidup tanpa kehadiran
manusia lain itulah yang menyebabkan adanya dorongan untuk berhubungan (interaksi)
dengan orang lain. Tidak ada manusia yang sama persis di dunia ini walaupun
kembar sekalipun,setiap manusia memiliki keunikan tersendiri. Atas dasar hal
tersebut sering sekali terjadi konflik di dalam kehidupan. Rutinitas sehari-
hari yang dilakukan secara terus menurus pula kerap kali menimbulkan titik
jenuh yang akhirnya menimbulkan stress dan ketegangan psikis.
Sejak lahir
manusia dibekali pemikiran akal pemikiran yang sangat tinggi. Itulah yang
menyebabkan manusia memiliki potensi di berbagai bidang. Pemanfaatan dan
menejemen pemikiran secara baik sangat dibutuhkan agar manusia dapat menjalani
kehidupannya dengan baik. Sekalipun banyaknya hambatan dan permasalahan dalam
kehidupan, kita dapat menyelesaikannya secara tenang dan dapat mengantisipasinya
kelak.
RUHANIYAH MANUSIA
Unsur-unsur
ruhaniyah manusia yaitu semua bersumber dari Akal, Qolbu Dan Nafsu itu sendiri. Sebagaimana sabda rosul dalam
hadistnya yang berarti “ didalam jasad manusia ada segumpal darah yang apabila
baik maka baiklah semuanya dan apabila buruk maka buruk pula semuanya. Dan
segumpal darah tersebut adalah hati”.
1.
Akal,
Qalbu Dan Nafsu
A.
Akal
Kata akal mempunyai 2 makna yaitu:
·
Makna yang pertama adalah mengetahui hakekat
sesuatu.Makna yang kedua adalah orang berilmu yang ilmunya itu menjadi seperti
sifat baginya. Makna ini sama seperti bis
·
ikan halus rabbaniah yang telah dijelaskan sebelumnya.
Jadi tidak mungkin yang dimaksud dengan akal dalam sabda Nabi SAW, “Yang
pertama diciptakan Allah SWT adalah akal. Lalu dikatakan kepada akal
,’Menghadaplah’ maka akalpun menghadap” adalah makna akal yang pertama.
Dengan demikian jelas bagimu bahwa yang
dimaksud dengan hati, roh, dan an-nafs
alam berbagai ayat dan hadist diatas adalah bisikan halus rabbaniah
(ketuhanan). Sahl at-Tustari’ berkata “Hati itu laksana singgasana dan
dada menjadi kursinya.” Ucapan ini menunjukan bahwa yang dimaksud “hati”
olehnya adalah bukan gumpalan daging yang berisikan darah hitam melainkan
bisikan halus rabbaniah.
Sedangkan menurut ilmuwan dari negara barat
sono punya pendapat lain yaitu :
Perilaku manusia merupakan hasil interaksi tiga subsistem dalam kepribadian
manusia Id, EgoSuperego. Id adalah bagian kepribadian yang
menyimpan dorongan-dorongan biologis manusia (hawa nafsu) pusat insting.
Ada 2 insting dominan :
1. Libido, insting reproduktif yang menyediakan energy dasar untuk
kegiatan manusia yang konstruktif atau disebut juga insting kehidupan (eros)
yang bukan hanya meliputi dorongan seksual, tetapi juga meliputi segala hal
yang mendatangkan kenikmatan termasuk kasih ibu, pemujaan pada Tuhan dan cinta
diri (narcisism).
2. Thanatos, insting destruktif dan agresif atau disebut juga insting
kematian. Semua motif manusia adalah gabungan antara eros dan thanatos.
Idbergerak berdasarkan prinsip kesenangan (pleasure principle), ingin
segera memenuhi kebutuhannya. Id bersifat egoistis, tidak bermoral
dan tidak mau tahu dengan kenyataan. Id adalah tabiat hewani
manusia.
- Qalbu
Kata hati memiliki 2 makna :
·
Makna pertama adalah daging kecil yang
terletak didalam dada sebelah kiri dan didalamnya ada rongga yang berisi darah
hitam. Daging ini menjadi sumber dan tempat bagi roh. Daging seperti ini juga
terdapat pada binatang dan orang mati.
·
Makna yang kedua adalah bisikan halus
rabbaniyah (ketuhanan) yang berhubungan langsung dengan hati yang berbentuk
daging. Bisikan halus rabbaniah inilah yang dapat mengenal Allah SWT dan
memahami apa yang tak dapat dijangkau oleh khayalan dan angan-angan.
Inilah hakekat manusia yang dikenai titah
hukum, dan penjelasan seperti ini diisyaratkan oleh firman Allah SWT
yang Artinya :“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati”. (QS Qaf ayat 37 )
Jika yang dimaksud denga hati ( al-qalbu )
dalam ayat ini adalah gumpalan daging kecil, maka semua orang memilikinya
(namun yang dimaksud disini adalah orang-orang yang mempunyai akal, dengan
demikian tidak semua orang memikinya karena tidak semua orang berakal ). Jika
kamu telah memahami hal ini, maka ketahuilah bahwa hubungan antara bisikan
rabbaniah yang sangat halus dengan hati yang berbentuk daging adalah hubungan
yang sangat dalam (samar) yang tidak dapat diketahui dengan
penjelasan-penjelasan, jadi tergantung pada persaksian mata hati. Situasi ini
dapat diilustrasikan dengan perumpamaan sebagai berikut; bisikan rabbaniah
ibarat seorang raja, sedangkan dagingnya laksana istananya. Jika hubungan
keduanya seperti halnya hubungan benda-benda, maka tidak benar jika dikatakan
bahwa bisikan rabbaniah dapat berpindah dari satu hati ke hati manusia yang
lain.
A.
NAFSU
Nafsu secara etimologi
berarti jiwa. Adapun nafsu secara terminologis ilmu tasawwuf akhlaq, nafsu
adalah dorongan-dorongan alamiah manusia yang mendorong pemenuhan kebutuhan
hidupnya.
Adapun penertian hawa
nafsu adalah sesuatu yang disenangi oleh jiwa kita yang cenderung negatif baik
bersifat jasmani maupun nafsu yang bersifat maknawi. Nafsu yang bersifat
jasmani yaitu sesuatu yang berkaitan dengan tubuh kita seperti makanan, minum,
dan kebutuhan biologis lainnya, Nafsu yang bersifat maknawi yaitu, nafsu yang
berkaitan dengan kebutuhan rohani seperti, nafsu ingin diperhatikan orang lain,
ingin dianggap sebagai orang yang paling penting, paling pinter, paling
berperan, paling hebat, nafsu ingin disanjung dan lain-lain.Hawa nafsu inilah
yang mengakibatkan pengaruh buruk / negatif bagi manusia.
Dari segi tahapan nafsu
terbagi menjadi tiga bagian yaitu :
1.
Nafsu amarah
Yaitu jiwa yang masih cenderung
kepada kesenangan-kesenangan yang rendah, yaitu kesenangan yang bersifat
duniawi. Nafsu ini berada pada tahap pertama yang tergolong sangat rendah,
karena yang memiliki nafsu ini masih cenderung kepada perbuatan-perbuatan yang
maksiat. Secara alami nafsu amarah cenderung kepada hal-hal yang tidak baik.
Bahkan, karena kebiasaan berbuat keburukan tersebut, bila mana dia tidak
melakukannya, maka dia akan merasa gelisah, sakau dan gundah gulana.
Allah SWT berfirman dalam al-qur’an
Allah SWT berfirman dalam al-qur’an
Artinya: Sesungguhnya nafsu itu
suka mengajak ke jalan kejelekan, kecuali (nafsu) seseorang yang mendapatkan
rahmat Tuhanku (QS. Yusuf : 53).
2.
Nafsu Lawwamah
Yaitu jiwa yang sudah sadar dan
mampu melihat kekurangan-kekurangan diri sendiri, dengan kesadaran itu ia
terdorong untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan rendah dan selalu berupaya
melakukan sesuatu yang mengantarkan kebahagian yang bernilai tinggi.
Ustadz Arifin ilham pernah
mengatakan , bahwa orang yang masih memiliki nafsu lawammah ini biasanya disaat
ia melakukan maksiat/dosa maka akan timbul penyesalan dalam dirinya, namun
dalam kesempatan lain ia akan mengulangi maksiat tersebut yang juga akan
diiringi dengan penyesalan-penyesalan kembali.
3.
Nafsu Mutmainnah
Yakni jiwa tenang, tentram, karena
nafsu ini tergolong tahap tertinggi, nafsu yang sempurna berada dalam kebenaran
dan kebajikan, itulah nafsu yang dipanggil dan dirahmati oleh Allah SWT,
Sebagaimana firman-Nya:
Artinya : Hai jiwa yang tenang,
kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. (QS. Al -
Fajr : 27-28).
Dalam ayat lain Allah menghiburnya yaitu
:
Artinya
: Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. (QS. Asy Syams :9)
B.
Karakteristik
Manusia
Dalam
kehidupan ini manusia dapat diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu:
1.
Manusia
yang Berperilaku dengan Akhlak Islamiah
Ia adalah orang yan rajin beribadah dan
rajin ke mesjid. Orang seperti ini harus di nomor satukan, karena mereka lebih
dekat dengan dakwah kita, sehingga tidak membutuhkan tenaga yang banyak dan
untuk mengajak mereka pun tidak banyak kesulitan, Insya Allah.
2.
Manusia
yang Berperilaku dengan Akhlak Asasiyah
Ia adalah orang yang tidak taat
beragama, tetapi tidak mau terang-terangan dalam berbuat maksiat karena ia
masih menghormati harga dirinya. Orang-orang semacam ini menempati urutan
kedua.
3.
Manusia
yang Berperilaku dengan Akhlak Jahiliah
Ia adalah orang yang bukan dari golongan
pertama dan kedua. Dialah orang yang tidak peduli terhadap orang lain, sedang
orang lain mencibirnya karena perbuatan dan perangainya yang jelek. Rasullullah
saw bersabda, “sesungguhnya sejelek-jelek tempat manusia di sisi Allah pada
hari kiamat adalah orang yang ditinggalkan (dijauhi) masyarakatnya karena takut
dengan kejelekannya”. (HR. Bukhari dan Muslim). Golongan inilah yang disebut
dalam sabda Raullullah saw sebagai “”sejelek-jeleknya tempat bergaul”. (HR
Muslim).
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusRefrensinya dimana min
BalasHapusReferensinya dong min
BalasHapus